suamiku kini tlah tiada dan penyesalanku yg terus ada

April 3rd, 2010

Ini adalah kisah nyata di kehidupanku
Seorang suami yg kucintai yang kini telah tiada
Begitu besar pengorbanan seorang suamiku pada keluargaku
Begitu tulus kasih sayangnya untukku dan anakku
Suamiku adalah seorang pekerja keras. Dia membangun segala yang ada di keluarga ini dari nol besar hingga menjadi seperti saat ini. Sesuatu yang kami rasa sudah lebih dari cukup.

Aku merasa sangat berdosa ketika teringat suamiku pulang bekerja dan aku menyambutnya dengan amarah,tak kuberikan secangkir teh hangat melainkan kuberikan segenggam luapan amarah.
Selalu kukatakan pada dia bahwa dia tak peduli padaku,tak mengerti aku,dan selalu saja sibuk dengan pekerjaannya.
Tapi kini aku tahu.
Semua ucapanku selama ini salah.dan hanya menjadi penyesalanku karena dia telah tiada.
Temannya mengatakan padaku sepeninggal kepergiannya.
Bahwa dia selalu membanggakan aku dan anakku di depan rekan kerjanya.
Dia berkata, “ setiap kali kami ajak dia makan siang,mas anwar jarang sekali ikut kalau tidak penting sekali,alasannya slalu tak jelas. Dan lain waktu aku sempat menanyakan kenapa dia jarang sekali mau makan siang, dia menjawab, “ aku belum melihat istriku makan siang dan aku belum melihat anakku minum susu dengan riang.lalu bagaimana aku bisa makan siang.” Saat itu tertegun,aku salut pada suamimu. Dia sosok yang sangat sayang pada keluarganya. Suamimu bukan saja orang yang sangat sayang pada keluarga,tapi suamimu adalah sosok pemimpin yang hebat. Selalu mampu memberikan solusi-solusi jitu pada perusahaan.”
Aku menahan air mataku karena aku tak ingin menangis di depan rekan kerja suamiku. Aku sedih karena saat ini aku sudah kehilangan sosok yang hebat.

Teringat akan amarahku pada suamiku,aku selalu mengatakan dia slalu menyibukkan diri pada pekerjaan,dia tak pernah peduli pada anak kita. Namun itu semua salah. Sepeninggal suamiku. Aku menemukan dokumen2 pekerjaannya. Dan aku tak kuasa menahan tangis membaca di tiap lembar di sebuah buku catatan kecil di tumpukan dokumen itu, yang salah satunya berbunyi, “ perusahaan kecil CV.Anwar Sejahtera di bangun atas keringat yang tak pernah kurasa. Kuharap nanti bukan lagi CV.Anwar Sejahtera, melainkan akan di teruskan oleh putra kesayanganku dengan nama PT. Syahril Anwar Sejahtera. Maaf nak, ayah tidak bisa memberikanmu sebuah kasih sayang berupa belaian. Tapi cukuplah ibumu yang memberikan kelembutan kasih sayang secara langsung. Ayah ingin lakukan seperti ibumu. Tapi kamu adalah laki-laki. Kamu harus kuat. Dan kamu harus menjadi laki-laki hebat. Dan ayah rasa,kasih sayang yang lebih tepat ayah berikan adalah kasih sayang berupa ilmu dan pelajaran. Maaf ayah agak keras padamu nak. Tapi kamulah laki-laki. Sosok yang akan menjadi pemimpin,sosok yang harus kuat menahan terpaan angin dari manapun. Dan ayah yakin kamu dapat menjadi seperti itu.”
Membaca itu,benar2 baru kusadari.betapa suamiku menyayangi putraku.betapa dia mempersiapkan masa depan putraku sedari dini. Betapa dia memikirkan jalan untuk kebaikan anak kita.

Setiap suamiku pulang kerja. Dia selalu mengatakan, “ ibu capai?istirahat dulu saja”
Dengan kasar kukatakan, “ ya jelas aku capai,semua pekerjaan rumah aku kerjakan. Urus anak,urus cucian,masak,ayah tahunya ya pulang datang bersih.titik.”
Sungguh,bagaimana perasaan suamiku saat itu. Tapi dia hanya diam saja. Sembari tersenyum dan pergi ke dapur membuat teh atau kopi hangat sendiri. Padahal kusadari. Beban dia sebagai kepala rumah tangga jauh lebih berat di banding aku. Pekerjaannya jika salah pasti sering di maki-maki pelanggan. Tidak kenal panas ataupun hujan dia jalani pekerjaannya dengan penuh ikhlas.

Suamiku meninggalkanku setelah terkena serangan jantung di ruang kerjanya.tepat setelah aku menelponnya dan memaki-makinya. Sungguh aku berdosa. Selama hidupnya tak pernah aku tahu bahwa dia mengidap penyakit jantung. Hanya setelah sepeninggalnya aku tahu dari pegawainya yang sering mengantarnya ke klinik spesialis jantung yang murah di kota kami. Pegawai tersebut bercerita kepadaku bahwa sempat dia menanyakan pada suamiku.
“pak kenapa cari klinik yang termurah?saya rasa bapak bisa berobat di tempat yg lebih mahal dan lebih memiliki pelayanan yang baik dan standar pengobatan yang lebih baik pula”
Dan suamiku menjawab, “ tak usahlah terlalu mahal. Aku cukup saja aku ingin tahu seberapa lama aku dapat bertahan. Tidak lebih. Dan aku tak mau memotong tabungan untuk hari depan anakku dan keluargaku. Aku tak ingin gara-gara jantungku yang rusak ini mereka menjadi kesusahan. Dan jangan sampai istriku tahu aku mengidap penyakit jantung. Aku takut istriku menyayangiku karena iba. Aku ingin rasa sayang yang tulus dan ikhlas.”
Tuhan..Maafkan hamba Tuhan,hamba tak mampu menjadi istri yang baik. Hamba tak sempat memberikan rasa sayang yang pantas untuk suami hamba yang dengan tulus menyayangi keluarga ini. Aku malu pada diriku. Hanya tangis dan penyesalan yang kini ada.

Saya menulis ini sebagai renungan kita bersama. Agar kesalahan yang saya lakukan tidak di lakukan oleh wanita-wanita yang lain. Karena penyesalan yang datang di akhir tak berguna apa-apa. Hanyalah penyesalan dan tak merubah apa-apa.
Banggalah pada suamimu yang senantiasa meneteskan keringatnya hingga lupa membasuhnya dan mengering tanpa dia sadari.
Banggalah pada suamimu,karena ucapan itu adalah pemberian yang paling mudah dan paling indah jika suamimu mendengarnya.
Sambut kepulangannya di rumah dengan senyum dan sapaan hangat. Kecup keningnya agar dia merasakan ketenangan setelah menahan beban berat di luar sana.
Sambutlah dengan penuh rasa tulus ikhlas untuk menyayangi suamimu.
Selagi dia kembali dalam keadaan dapat membuka mata lebar-lebar.
Dan bukan kembali sembari memejamkan mata tuk selamanya.

Teruntuk suamiku.
Maafkan aku sayang.
Terlambat sudah kata ini ku ucapkan.
Aku janji pada diriku sendiri teruntukmu.
Putramu ini akan kubesarkan seperti caramu.
Putra kita ini akan menjadi sosok yang sepertimu.
Aku bangga padamu,aku sayang padamu.

Istrimu
Rina

Silahkan berbagi tulisan ini kepada saudara,teman,kerabat anda. Saya berharap pengalaman yg saya miliki dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

Surprise!

June 18th, 2008

Pagi ini Jakarta kembali bergairah. Libur panjang pemerintah telah berakhir, aktivitas bergerak seperti biasa. Pekerjaan segera menunggu diruangan yang telah kutinggalkan selama tiga hari. Jumat, sabtu dan minggu aku habiskan dikampung halaman penuh kenangan, Ujung Batu.

Pikiranku kembali pada sabtu sore itu, saat sepeda motor yang kupinjam dari Dedi, adik ku, singgah di sebuah ruko dua lantai bercat kuning krem. Fina tidak banyak berubah. Lima belas tahun berpetualang di Jakarta, gadis yang kutinggalkan bersama cinta pertamaku itu masih berambut sebahu. Cara meliriknya saat kusapa, senyumannya, gayanya mengangkat bahu saat mengungkapkan tidak tahu, masih Fina sang rembulanku di bangku SMP.

Toko itu menjual produk kosmetik. Tempat yang strategis di pinggir jalan raya. Seorang lelaki sibuk di meja kasir, melayani seorang ibu mudah ditemani anaknya. ‘Bang Budi, suamiku’ suara fina menegaskan dugaanku. ‘Oh…mmm…sudah berapa anggota mu?’ sedikit kaget, aku berbasa basi. Seperti koran usang di pasar loak, informasi masa lalu mengalir dari bibir Fina, aku mendengar ditemani perasaan menyesal.

Sejak aku melanjutkan sekolah ke Jakarta, hingga saat ini, aku tak pernah menghubungi Fina. Aku berjanji untuk kembali menemui Fina saat pertemuan terakhir malam itu di teras rumahnya. Aku bertekad menggapai cita citaku di ibu kota, segera aku beritahu Fina setelah semua itu tercapai, dan aku akan kembali dengan lamaran. Niat ini hanya ada dalam otakku, tak kuberi tahu Fina. Surprise.!

‘Saat semua orang telah memiliki handphone, aku tak tahu kemana harus menghubungi mu. Terakhir aku kerumahmu setelah lebaran dua tahun lalu, Dedi bilang kamu belum punya handphone dan baru dua kali kirim surat. Kamu bilang akan kembali setelah berhasil, takut ditertawakan teman jika gagal. Yang ku tahu, kamu telah selesai kuliah dan telah enam bulan nganggur’ tutur kata Fina dari nomer handphone yang diberikan padaku menjelang magrib saat aku akan meninggalkan ruko itu. ‘Umurku dua puluh empat tahun, aku wanita. Terlalu tua jika aku masih mengharapkan ketidakpastian. Bang Budi datang dalam hidupku. Juni 2007 kami menikah’.

Keluarga yang kutinggalkan miskin. Tidak ada alat komunikasi selain selembar kertas dalam amplop yang kukirim lewat PosGiro. Handphone kudapat dua bulan lalu, setelah menerima gaji pertama yang lumayan di perusahaan swasta asing penghasil garmen ini. Jika keadaan ini sebagai alasan, akan kuterima sebagai jalan yang terpaksa.

Hal terbodoh dalam hidupku. Surprise itu!. Rencana sialan yang menghancurkan. Mengapa tak terlintas dalam benakku untuk sedikit memberi informasi ke Fina, setidaknya kabar isyarat. Mengapa tak terbayangkan olehku, kegelisahan wanita dengan umurnya. Rasa panik dan frustasi di Jakarta telah membuatku lupa dan sangat egois terhadap perasaan Fina.

Kuambil setumpuk kertas dimeja, pekerjaan telah menunggu seperti biasa.

Akmal, Jakarta

Promosi Bencana

June 18th, 2008

Pernah nonton ‘Brokeback Mountain’?. Film dua koboi yang saling jatuh cinta itu, agaknya mirip dengan kehidupan yang ku alami. Aku dan Rio.

Awalnya kami satu ruangan kerja, staff keuangan. Seperti teman biasa, kami sering jalan bareng dan curhat, kadang diselingi ribut kecil. Selama dua tahun kami adalah dua orang karyawan pria tanpa pacar dalam satu ruangan.

Malam itu, awal Mei 2006, kepala keuangan meninggalkan ruangan untuk meeting dengan kapala cabang saat kami lembur. Sekitar jam 20.00, ruangan begitu sunyi saat Rio tiba tiba berdiri disampingku. Entah mengapa, tiba tiba aku merasakan aura yang berbeda pada dirinya. ‘Zul, nanti malam aku ke kost-an mu ya, aku senang berlama lama dengan mu’ bisiknya. Untuk pertama kalinya aku merasa gema suara yang berbeda. Hatiku berbisik: apakah ini puncak dari keakraban selama ini. kedekatan yang kadang sering membuat kami kikuk.

Empat bulan sudah. Kami tenggelam dalam kisah yang kelak akan dicaci maki semua orang yang mendengarnya. Aku tidak bisa mengelak. Tidak bisa mengakhiri.

Oktober 2007. Setelah kinerja karyawan dinilai, keputusan pun diumumkan. Aku diangkat sebagai assisten, membantu kepala keuangan mengkoordinir dua staff baru. Perusahaan sedang berkembang. Dan Rio, Promosi ke Surabaya, menggantikan kepala keuangan yang segera pensiun.

Tidak ada pesta perayaan. Promosi ini adalah bencana. Dua minggu menjelang realisasi pindah tugas, sepulang kerja, Aku dan Rio menghabiskan waktu dengan topik yang diakhiri air mata tertahan. ‘Aku berjanji akan selalu menghubungi mu zul’ lirih Rio.

Kami tak pantas untuk saling mencintai, tapi aku tak menemukan seorang pun yang bisa kucintai selain Rio. Keinginan berhenti kerja dan menemani Rio ke kota buaya itu kadang muncul mengganggu, namun kesadaranku akan akibat kelanjutan hubungan terkutuk ini lebih keras menghalangi.

Juni 2008, teriakan suporter Italia teman kost diruang sebelah membangunkanku. Kulihat handphone di meja sebelah ranjang, satu sms segera kubuka. ‘Zul, smg ketmu cwek idaman. bln novbr aku menikah’.

Z.A, Palembang

Cinta Mati

June 17th, 2008

Cinta sampai mati!, yaelah…segitunya yang lagi pacaran mengartikan cinta, matipun rela demi sang kekasih.

Tahi kucing rasa coklat, begitu bunyi lagu yang pernah aku dengar ( yang nyanyi entah Jamal Mirdad atau Farid Harja…lupa aku ).

Kalau aku sendiri gak bakalan mau kayaknya, kalau misal harus berantem sama preman gara gara pacar. Apalagi kalau si doi yang bikin ulah duluan. Gak la yauww, mending pura pura gak tau deh. Lagian ntar kalau koit emang di jamin masuk sorga apa?. Gak yakin…!

Tapi kalau buat bini, lautan penuh duri pun wajib hukumnya aku renangin. Harus dibela sampai darah penghabisan. Buat aku, istri semacam amanah dari Tuhan buat dicintai dan dilindungi.

 

Dendi – semarang (080xxx)

Kisah Cinta

May 23rd, 2008

Cinta akan merubah seseorang. Keindahan cinta bisa membuat bajingan menjadi ‘anak manis’ didepan sang kekasih. Seorang wanita cantik bisa menjadi pelaku mutilasi hanya karena cemburu…ckckckc segitunya cinta.

Karena cinta itu telah hadir sejak zamanya Adam dan Hawa, maka kisah cinta tak pernah pudar dan selalu asyik buat dinikmati dan diceritakan sepanjang zaman. Istilah cinta pun bermacam ragam; Cinta Monyet, Cinta Mati, Cinta Karet, Cinta Segitiga, Pencuri Cinta, Pecinta Wanita dan lainnya. Baru istilah di Indonesia udah capek menyebutnya satu persatu apalagi kepunyaan dunia dan seisinya, 1000 X cape’ deh.

Mari berbagi kisah disini, Kisah cinta

LoveCinta.com